KEBIJAKAN DAN POLA KONSERVASI CENDANA PADA MASA MENDATANG DI PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Albert H Wawo, BP Naiola, Fauzia Syarif
| Abstract views: 455 | PDF views: 628

Abstract

Cendana (Santalum album L.) adalah tumbuhan yang memiliki potensi ekonomi tinggi karena penggunaannya di berbagai bidang seperti bahan kosraetika, obat-obatan, kayu ukiran dan bahan kerajinan rumah tangga (home industry). Oleh karena potensinya yang tinggi itu maka eksploitasi dari habitat aslinya dilakukan secara terus-menerus tanpa memperhatikan upaya konservasinya, sehingga populasi cendana dalam habitat aslinya telah sampai pada kondisi yang memprihatinkan. Cendana merupakan salah satu komoditi unggulan di propinsi NTT yang mampu memberikan andil sebesar 22,08% untuk pendapatan asli daerah (PAD). Dalam rangka Otonomisasi Daerah sesuai dengan UU Nomor 22 tahun 1999 maka perhatian khusus untuk konservasi dan pengembangan cendana adalah salah satu prioritas yang tidak dapat dielakkan oleh masyarakat dan PEMDA NTT. Model agroforestry cendana merupakan salah satu pola konservasi dan pengembangan cendana di masa mendatang dengan melibatkan masyarakat lokal untuk menanam cendana di ladang atau tegalannya. Dengan menerapkan pola ini dalam periode jangka panjang (lebih dari 20 tahun) ke depan masyarakat secara berangsur-angsur mengurangi tekanan terhadap pengambilan cendana dari habitat aslinya di alammkarena cendana telah dapat dipanen dari ladang dan tegalannya. Tulisan ini akan membahas pula penyebab kegagalan konservasi cendana, dan beberapa pemikiran tentang kebijakan dasar untuk konservasi cendana pada masa mendatang.

Keywords

Cendana, komoditi unggulan, potensi ekonomi, pola konservasi.

Full Text:

PDF

References

Alikodara DS. 2000. Pengelolaan Sumber Daya Alam. Kumpulan Bahan Kuliah Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

BanoEt HH. 2000. Peranan Cendana dalam Perekonomian NTT, Dulu dan Kini. Tanaman Cendana {Santalum album L.) sebagai Sumber Daya Daerah Otonomi NTT. Berita Biologi 5(5), 469-474.

Hamzah H. 1976. Sifat Silvika dan Silvikultur Cendana (Santalum album L.) di Pulau Timor. Lembaga Penelitian Hutan, Departemen Kehutanan.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Diterjemahkan oleh Badan Libang Kehutanan Jakarta.

ICEL. 1999. Demokratisasi Pengelolaan Sumber Daya Alam. Prosiding Lokakarya Reformasi Hukum di Bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Mac Kinnon JR, RC Beudels, PD Liman, Zaenuesi, AH Robinson, D Supriadi. 1992. Feasibility Studies Of Potential Reserves of Sumba Island.

UNDP/FAO Field Report For of Nature Conservation Republic of Indonesia.

Mudita IW. 1995. Pola Pengelolaan Tanaman Keras dan Satwa Langka di Nusa Tenggara Timur. Laporan Penelitian. Universitas Nusa Cendana Kupang.

Sinaga M dan IK Surata. 1997. Pedoman Budidaya Cendana. Aisuli Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kupang.

Supriatna J. 1999. Reviews on Indonesia Biodiversity Conservation: Problems, Biodiversity Conservation: Problems, Strategy, and Its Future Outlook. Makalah dalam Lokakarya Paradigma Bam Manajemen Konservasi. Yogyakarta.

Tantra IGM. 1983. Erosi Plasma Nutfah Nabati dan Masalah Pelestariannya. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Vol. II No. 1.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.